CINTA” (Udah Putusin Aja!)

loveCINTA, satu kata yang takkan habis dibicarakan sepanjang waktu, kata yang akan terus laku dijual dalam dunia cerita, dunia layar, dan dunia nyata. Cinta itu tidak bisa dilihat, namun nyata bisa dirasakan.

Cinta ditemukan pada semua hal. Atas nama cinta banyak orang memperoleh kebahagiaan, atas nama cinta pula banyak orang menuai luka nestapa. Karena cinta seorang yang gagap tiba-tiba menjadi seorang puitis, karena cinta pula seorang ahli sastra seolah seperti anak kecil yang baru belajar bicara.

Cinta dapat membuat seorang pengecut menjadi pemberani, membuat yang paling berani menjadi jinak di hadapannya. Demi cinta tak ada lautan yang tak bisa diseberangi, tak ada gunung yang tak bisa didaki.

Karena cinta, pembunuh akan jadi penyayang yang paling baik. Cinta pula yang memberi harapan kepada yang putus asa.

Sungguh mulia cinta, ia putih, sucibersih tanpa noda. Cinta adalah kasih sayang yang tulus, yang diberikan Pencipta kita, Allah Swt. Dialah sumber segala kasih sayang dan cinta yang ada di permukaan bumi dan langit serta yang ada di antara keduanya. Allah-lah yang berkehendak menjadikan setiap akal dan hati kita cenderung pada perasaan saling menyayangi, saling membutuhkan. Bukan hanya butuh untuk dicintai, tapi juga butuh mencintai. Cinta adalah fitrah manusia. Tanpa cinta takkan lengkap keberadaan kita sebagai manusia, takkan sempurna kita sebagai makhluk Allah.

Sejak awal penciptaan kita pun, cinta telah berperan di sana. Manusia dimulai dari ketiadaan, ruang kosong tanpa waktu, lalu Allah berkehendak menjadikan kita dengan cinta-Nya. Ditiupkan-Nya ruh kepada kita, yang membuat kita menjadi ada. Yang membuat kita bisamerasakan lezatnya hidangan yang kita santap, sejuknya udara saat hujan mereda, dan membuat semua indra kita bisa berfungsi. Tanpa kehendak Allah dan tanpa izin-Nya, mustahil semua yang ada pada diri kita bisa kita nikmati. Mustahil.

LALU, kita tumbuh berkembang di dalam cinta di rahim bunda kita yang tersayang. Diawali pernikahan mulia ayah dan bunda kita. Setiap hari mereka berdua memantau dan menanti perkembangan kita.

Ayah kita begitu gembira menanti kedatangan kita. Di tengah usahanya menafkahi bunda dan calon anaknya serta menabung untuk kelahiran buah hatinya, ia tak jarang mengingat kita, selalu terusik kerjanya bila muncul pertanyaan, “Apakah anakku baik-baik saja?”.

Setiap upah yang ia terima selalu diutamakannya untuk kita nanti. Tak jarang ayah dan bunda kita menahan lapar dengan alasan, “Ini untuk si kecil nanti”.

Bunda sungguh tak terhitung jasamu. Setiap hari kita memberatkan dan membatasi mereka dengan tubuh kita yang setiap hari semakin besar. Setiap hari disibukkannya dengan membaca buku “Bagaimana mempersiapkan kedatangan seorang bayi?”.

Bunda makan makanan yang bergizi walaupun saat itu mereka tidak menginginkan. Bukan karena apa-apa, karena kita membutuhkan gizi dan makanan yang baik. Di masa-masa menjelang kelahiran, semua keluarga besar bergembira, ayah dan bunda kita berdiskusi memilih nama apa yang paling tepat untuk kita.

Sampai kelahiran pun dipenuhi dengan cinta yang tulus. Perasaan senang, khawatir, dan takut bercampur menjadi satu pada diri mereka. Senang karena kita akan segera lahir kedunia, khawatir dengan proses persalinan yang mereka lakukan. Takut jangan-jangan Allah memanggil ketika melahirkan, sehingga bunda tidak dapat menemani dan membimbing kita menjadi dewasa dan menjadi anak yang saleh.

SETIAP teriakan yang dia keluarkan menambah kecemasan ayah kita yang setiap minggu proses kelahiran. Baginya, itulah waktu terlama yang pernah ia rasakan, ia berpikir, “Ya Allah saat ini, apa pun tidak berarti, kecuali kelahiran buah hatiku”.

Teriakan demi teriakan berlanjut, setiap teriakan mewakilkan pertaruhan nyawa yang sedang dilakukannya. Demi buah hatinya, tak tersisip sedikit pun rasa getar menjalani semua itu. Rasa sakit dihadapi, nyawa dipertaruhkan. Keselamatannya bukan jadi yang utama, keselamatan kita mengalahkan segala kepentingan akan nyawa baginya.

Setiap erengan, tetes air mata, dan darah yang dia alirkan adalah benih kebaikan. Jihad seorang bunda adalah melahirkan anaknya. Tak sekali pun dia menyesal, tak sekali pun dia mengeluh. Dalam hidupnya, mungkin itu yang paling menyakitkan yang dia rasakan, tapi itu juga hari paling berbahagia yang pernah ia rasakan. Semua karena kita.

LALU, lahirlah kita. Dengan teriakan yang nyaring dan menggema, diperlihatkan wajah kita yang masih belum bisa membuka mata dan masih bermandikan darah bunda kita. Ia tersenyum, merasakan dirinya yang paling bahagia di seluruh semesta. Padahal, tadi ia berteriak-teriak kesakitan. Semua hilang ketika melihat wajah kita.

Inilah cinta. Ayah pun menghambur masuk, mencium bunda dan segera mengumandangkan azan ke telinga kita. Tanda syukur yang mendalam, buyar semua cemas-galaunya. Inilah cinta.

KETIKA kita tumbuh dan berkembangpun semuanya diliputi kehangatan cinta. Tangis kita menjadi usikan di kala mereka berdua tidur, tapi dengan senang hati bunda bangun, mengganti popok yang basah, menenangkan kita yang rewel untuk tertidur kembali.

Tak berapa saat kita pun membangunkan kembali tidur mereka yang baru sedikit pulas, kali ini karena lapar. Dengan penuh kesabaran, kembali bunda bangun dan menyusui kita sampai kita tenang dan tertidur kembali. Inilah cinta.

Ketika kita beranjak dewasa, mereka mendengar semua keluhan dan makian kita. Suara kita yang keras saat marah kepada mereka, mereka balas dengan nasihat yang tulus. Diajarinya kita semua hal tentang dunia dan hidup.

Setiap hari tak lupa didoakannyakita setelah shalatnya, sampai detik ini pun ia masih berdoa. “Ya Allah, jadikanlah putra-putriku sedap dipandang mata dan berikanlah mereka hati yang lembut dan kesalehan”.

Sering kali mereka nangis saat kita membentak mereka, sakit. Tapi esoknya, kembali memperlihatkannya wajah dan senyum cerianya, kembali memasak makanan dan menyiapkan pakaian kita. Tanpa keluhan. Inilah cinta.

TAPI, mari kita putar balik memori kita. Tulusnya cinta kedua orangtua kita yang selalu memberi tanpa pamrih, sudahkah kita menghargainya dan mengingatnya? Pernah kah kita memberikan hadiah kepada bunda kita, memberikan sekuntum bunga kepada bunda kita, atau sekedar memeluk bunda kita dan mengucapkan atas pemberiannya yang takkan bisa kita balas? Pernahkah kita mengucapkannya, “Terima kasih ya, bunda.”, “Terima kasih, Ayah, atas upaya mu menghidupi dan mencukupi keluarga”.

Atau pernahkah kita meminta maaf saat kita melakukan kesalahan pada ayah kita? Atau sekedar berdoa bagi mereka berdua setelah shalat? Ingatkah kita kepada mereka berdua saat kita mendapatkan kesenangan.

LEBIH jauh lagi, apakah kita termasuk orang yang menginginkan cinta yang diberikan Allah dan Rasul-Nya Muhammad? Kita mengaku umat Muhammad, menulisnya dalam tokoh idola kita, tapi mungkin tak sedikit pun merindukannya.

Padahal Rasulullah Saw., manusia mulia yang dijamin masuk surga, rela dilempari batu hingga kakinya berdarah, rela dihina, dimaki, dilempari kotoran, demi kita,demi umatnya. Bahkan sampai wafatnya pun Rasul selalu memikirkan umatnya lebih dari pada dia dan keluarganya. “Ummati … ummati … ummati ….” Itulah kata-kata terakhirnya.

Padahal, jika tidak ada Rasul dan agama yang dibawanya, mana mungkin kita mempunyai kedua orang tua yang baik. Tanpa izin Allah, Sumber segala cinta, bagaimanakah orangtua kita bisa ada di dunia ini?

MAKA, kepada Allah-lah kita harus berterima kasih paling banyak dan paling besar, bersyukurlah. Lalu, bershalawatlah kepada Nabi Muhammad Saw. yang memperjuangkan agama islam dengan darah dan bahaya serta kesusahan. Berikutnya adalah kepada orangtua, atas cinta dan kasih mereka.

Sungguh besar cinta yang di berikan Allah kepada kita, jangan sampai salah mengartikan cinta. Cinta yang kekalnan abadi hanya lah kepada Allah SWT, yang telah menciptakan alam semesta ini.

 

Dirangkum dari buku ust. Felix Siauw Udah putusin aja!
Oleh : Aidina Septiasih
Dept. Humas KAMMI Djuanda

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s