Jadilah Mahasiswa Pembelajar, Jangan Jadi Mahasiswa Pengumpul Nilai

“Masa mahasiswa adalah masa mengembangkan diri. Merugilah yang waktunya cuma dipakai di ruang kuliah saja”. (Anis Baswedan)

100years_of_awakening_days_by_indonesiaSejarah telah membuktikan peranan pemuda atau mahasiswa begitu penting dalam menggagas sebuah perubahan dalam suatu Negara. Proklamasi NKRI 1945 dan Reformasi 1998 telah menjadi bukti nyata dan konkret akan peranan mahasiswa dalam posisinya menggagas sebuah perubahan. Begitupun revolusi yang terjadi belakangan ini dibeberapa Negara timur tengah seperti di Tunisia, Mesir, Libya, dan yang lainnya tidak lepas dari peranan mahasiswa sebagai kaum intelektual muda sebagai aktornya.

Dalam catatan sejarah dinegeri ini mahasiswa selalu mencatatkan tinta emas dalam setiap lembaran aksi-aksi nyata akan kontribusi dan kerja-kerja konkritnya menggagas perubahan. Mahasiswa sebagai kaum muda yang dekat dengan tradisi-tradisi intelektual (movement intelectual) seperti budaya membaca, menulis dan meneliti yang mengedepankan sikap cerdas, kritis dan reformis juga idealis dalam melihat problematika yang ada sudah seyoganya tidak hanya berfikir dan berpandangan biasa-biasa saja dalam melihat kondisi Indonesia saat ini.

Keterpurukan negeri ini tidak lain karena negeri ini tidak dipimpin oleh jiwa-jiwa muda pemberani yang berjuang dengan nilai-nilai idelisme tinggi. Mahasiswa harus mengambil peran akan perbaikan di negeri ini, dimana ditangan merekalah diharapkan lahir ide-ide segar dengan gagasan rekontruksinya yang diharapkan mampu meberikan solusi-solusi yang solutif tidak spekulatif dan juga kontradiktif dalam perbaikan disegala lini negeri ini.

Sikap apatis dan hedonis terhadap kondisi yang ada disekitarnya hanya akan membuat peran mahasiswa semakin jauh dari harapan dan ekspetasi masyarakat saat ini. Bahkan akan menjatuhkan posisi strategis mahasiswa yang terbangun sudah sejak lama dalam kontribusi nyatanya menggagas perubahan. Tercetusnya sumpah pemuda, semangat perjuangan dan kerasnya perlawanan terhadap penjajah yang dilakukan para pemuda pada masa penjajahan harusnya harus tetap ada pada masa kini.

Sebab lebel mahasiswa harus menjadi sebuah kebanggan tersendiri bagi setiap pemuda yang dibuktikan dengan kerja-kerja dan karya-karya yang solutif, inspiratif, inovatif dan edukatif untuk perbaikan disegala lini kehidupan bangsa saat ini. Mahasiswa harus mampu menjadi pilar-pilar kebangkitan dan perubahan (agent of change) yang akan merubah dan memperbaiki masa depan negeri ini menuju kegemilangan bukan malah sebaliknya.

Mahasiswa harus senantiasa mengupgade diri dan mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya untuk mampu mengoptimalkan kecerdasan intelektualitas, moralitas dan kredibilitasnya juga menumbuhkan kecerdasan spiritualitasnya sehingga terciptanya individu-individu mahasiswa yang berstatus great personal dan high quality of student. Dengan begitu diharapkan mahasiswa bisa menjadi Iron stock (cadangan) dimasa depan sebagai SDM atau aset bangsa yang berkwalitas.

Untuk itu mahasiwa tidak hanya harus bergelut dengan buku-buku, sibuk belajar dalam kelas dan aktif dalam mengerjakan tugas-tugas kuliah saja untuk mengumpulkan nilai. Tanpa mengoptimalkan seluruh potensi yang dimilikinya untuk terus belajar menanamkan jiwa kepemimpinan dalam semua aspek kehidupan ini baik sosial, politik, ekonomi, budaya, kemasyarakatan dan sebagainya dengan membangun kepekaan dan penyikapan secara nurani sehingga timbulah sikap kritis.

Mahasiswa harus aktif dalam organisasi dikampusnya, karena ilmu dalam kelas tidak akan sebanding dengan tantangan global diera informasi seperti ini. Era industri sudah jauh berlalu jadi mahasiswa harus mampu merubah mindsetnya, bahwa kuliah tidak hanya skedar mendapat gelar saja. Tapi kuliah sebagai tempat pengembangan dan pembelajaran diri bagi setiap potensi yang dimilikinya. Dengan aktif berorganisasi dikampus maka tradisi intelektual seperti membaca, menulis dan meneliti (berdiskusi) akan sering mereka temui.

Diharapkan dengan mereka dekat dengan tradisi intelektual akan mampu merekontruksi dan membuat cakrawala pemikiran mereka akan semakin luas mampu menembus batas. Mereka akan berfikir secara cerdas tidak lagi malas, keratif dan inovatif, kritis juga dinamis. Mereka akan terbuka pemikirannya dan akan berfikir kerah yang lebih progressif tidak lagi normatif. Dengan begitu ketika mereka lulus kuliah mereka tidak lagi berfikir untuk bekerja tapi berfikir bagaimana agar mereka mampu menciptakan lapangan pekerjaan untuk orang lain.

Ketika mahasiswa hanya mendapatkan ilmu dari dosen saja tentu akan sangat sedikit dan tidak efektif bagi sarana pengembangan diri, dimana ruang-ruang mengkaji dan berdiskusi sangat minim. Ruang kelas yang sempit tidak akan mampu menampung ide dan gagasan juga rasa keingintahuan mahasiswa. Ini pernah saya rasakan ketika saya masih aktif kuliah dimana antara ilmu yang saya dapatkan dalam kelas jauh berbeda dari segi kebermanfaatan dan efektitifitas pembelajarannya dengan saya berorganisasi. Seperti keterampilan berkomunikasi, sikap responsibility, rasa tanggung jawab, managemen diri, dan yang lainnya.

Gerakan mahasiswa sendiri terbagi dalam 2 arah, yaitu gerakan horisontal dan gerakan vertikal. Dimana gerakan horisontal sendiri lebih kearah melakukan kontrolisasi dan mengevaluasi pemerintahan. Mengkritisi setiap kebijakan pemerintah yang tidak pro rakyat dengan aksi-aksi turun kejalan (berdemonstrasi). Mengontrol dan mengawal pemerintahan dalam menjalankan tugas-tugas negara agar tidak terjadi penyimpangan-penyimpangan yang dapat merugikan rakyat.

Adapun arah gerakan yang kedua adalah gerakan vertikal, yaitu mengabdi dimasyarakat. Dengan membuat gerakan-gerakan solutif dan kontributif bagi problematika yang ada dimasyarakat. Melakukan transformasi sosial dan membuat gagasan-gagasan intelektual demi menghentaskan dan meminimalisasi setiap problematika. Contoh mengadakan kegiatan-kegiatan sosial seperti baksos, membuat komunitas belajar bagi anak-anak putus sekolah, mengajar dipedalaman, membuat taman bacaan, mengadvokasi masyarakat dalam hal ketidakadilan dan lainnya.

Indonesia dimasa depan adalah milik para pemudanya khususnya mahasiswa, karena merekalah nantinya yang akan menjadi aktor dalam peranan penting menggagas perubahan Indonesia. Karena mahasiswalah nantinya yang akan menjadi penggerak roda kehidupan berbangsa dan bernegara baik ditingkatan elit pemerintahan (government) ataupun ditingkatan masyarakat sipil (civil society). Indonesia dimasa depan akan dapat dilhat dari generasi mudanya yang ada pada hari ini.

Mahasiswa adalah nafas dan ruh baru Indonesia untuk menggapai kegemilangan dimasa depan, maju mundurnya Indonesia ada ditangan para pemuda (mahasiswa) hari ini. Sudah seyoganya kita sebagai mahasiswa tidak hanya berfokus sibuk kuliah saja untuk mengumpulkan nilai dan dapat IPK tinggi lantas lulus lalu bekerja, tapi kita harus menjadi mahasiswa pembelajar aktif sehingga paradigma kerdil yang ada selama ini mampu kita rekontruksi menjadi sebuah paradigma reformis idealis demi Indonesia yang lebih baik. Setuju? Hidup mahasiswa Indonesia!

Oleh : Abdul Hajad
Koordinator Dept.Humas KAMMI Djuanda

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s