Dakwah Ini Dibangun Diatas Perjuangan Bukan Keputusasaan

1968_1047493622986_1784_n“Dakwah ini tidak mengenal sikap ganda. Ia hanya mengenal satu sikap totalitas. Siapa yang bersedia untuk itu, maka ia harus hidup bersama da’wah dan da’wah pun melebur dalam dirinya. Sebaliknya, barangsiapa yang lemah dalam memikul beban ini, ia terhalang dari pahala besar mujahid dan tertinggal besama orang-orang yang duduk. Lalu Allah SWT akan mengganti mereka dengan generasi lain yang lebih baik dan lebih sanggup memikul beban da’wah ini”.( Syahid Hasan Al Banna )

Pejuang adalah seorang yang berjuang dalam barisan kebenaran dengan sepenuh hati, mujahadah (sungguh-sungguh), tanpa pamrih dan penuh keikhlasan. Tegaknya dakwah islam sudah pasti aka terjadi ketika para pelaku dakwahnya bermental pejuang dan totalitas bukan pecundang. Teringat kata-kata seorang mujahid dr. Abdullah Azzam “Peradaban Islam diukir oleh dua hal: hitam tinta para ulama dan merah darah para syuhada. Keduanya bersinergi mengguncang dunia, memecah simpul-simpul zalim yang mengikat kejayaan Islam sekian lama. Jika tak ada ruang untuk memilih diantara keduanya, maka melaksanakan keduanya adalah puncak kemuliaan”

Medan dakwah yang sulit memerlukan sdm (sumber daya manusia) yang kuat dan energik. Dakwah ini dibangun diatas perjuangan dan pengorbanan bukan kelemahan apalagi keputusasaan. Pengemban dakwah adalah orang-orang terpilih yang secara empaty yang bersumber dari keimanan sehingga adanya panggilan untuk mau ikut berkontribusi dalam perjuangan dakwah yang didasari ketulusan hati dan keikhlasan tanpa pamrih semata-mata hanya karena Ridho Allah SWT. Ada sebuah hadits shahih yang harusnya menginspirasi para pejuang dakwah kampus saat ini “Muslim yang kuat lebih Allah cintai dari pada muslim yang lemah”. Kuat disini bukan dalam arti fisik saja, tapi komprehensif, seperti mental, jiwa, keistiqomahan dan semangatnya.

Seorang aktivis dakwah kampus harus survive (bertahan) dan tetap fight (bertarung) dalam kondisi apapun itu. Baik dalam keadaan ringan ataupun berat (qs. At – taubah : 41). Dia teteap sitiqomah dan mampu membuat sebuah terobosan dan instrumen baru dalam metode pergerakan dakwahnya. Keberhasilan dakwah dipastikan karena para pelaku dakwahnya memiliki nilai-nilai keistiqomahan, intelektual yang tinggi, tidak mudah putus asa, menyerah,  apalagi mengeluh kesah. Usaha dan kerja keras harus selalu jadi jargon perjuangan dan jadi semangat tanpa batas juga militansi tinggi dihati para aktivis dakwah. Dimana mereka harus seantiasa menanamkan azzam dalam setiap aktivitas dakwahnya meskipun keberhasilan belum terlihat sama sekali karena semangat tanpa batas adalah kunci masa depan yang gemilang.

Seorang aktivis dakwah kampus tidak boleh kalah oleh tribulasi-tribulasi (masalah-masalah) pribadi yang menimpanya. Dia harus bisa memanage emosinya dan tetap berkontribusi dalam dakwah bukan sebaliknya mundur dan menyerah dengan alasan tidak sanggupmenghadapi masalah. Harusnya dia melihat sejarah para generasi awalun dan catatan sejarah para pejuang dakwah terdahulu yang rela mengorbankan harta, nyawa, dan masalah pribadinya demi tegaknya dakwah islam ini. Dakwah akan tegak ketika para pengembannya lebih mencintai dakwah ini dari pada pribadinya. Aka tetapi bukan berarti tidak sama sekali megurusi atau meninggalkan udzur (masalah) pribadinya, tetapi sikap tawajun (seimbang) yang jadi pedoman dan sandaran.

Apabila dakwah ini dipikul oleh orang-orang yang lemah maka sudah dipastikan kemenangan hanya akan jadi mimpi tanpa visi. Dimana harapan kosong yang akan selalu terbayang dalam hati dan terbuang dikala sepi. Orang yang bertindak atas pragmatisme dan oportunisme maka sudah pasti sikap pengecut dan kerdilyang akan terlihat. Maka dari itu pelaku dakwah kampus haruslah meluruska niat dan mengazamkan kekuatan tanpa berfikir untung dan rugi karena hanya allahlah yang bisa menilai dan memberi imbalan itu semua berupa nikmat sebagai syuhada dan syurga. Setiap perjuangan dan pengorbanan yang dilakukan pejuang dakwah gagal atau berhasilnya hendaklah dijadikan pelajaran untuk kesempurnaan bukan kelalaian. Sehingga akan terjadi transformasi, inovasi juga evaluasi dalam pergerakan dakwah ketika dakwahnya gagal atau berhasil. Karena pengalaman adalah guru terbaik dan catatan manis peta petunjuk jalan yang dijadikan referensi dalam pergerakan dakwah.

Dakwah yang dibangun diatas kelemahan sudah pasti tidak akan bertahan lama dimana akanmudah pudar dan hancur disertai keterpurukan yang berkepanjangan. Karena akanmenimbulkan sikap dan mental tempe para aktivisnya. Dakwah kampus harus dibangun diatas kefahaman, manhaj yang jelas dan militansi tanpa batas. Sehingga para pelaku dakwah kampus bisa melakuka explorasi dan instrumen yang visioner dalam melangkah. Dakwah kampus hendaklah diemban oleh orang-orang yang tangguh, kuat, teguh dan ikhlas, keistiqomahan adalah kunci kemenagan dan keputusasaan adalah kunci kekalahan. Wallahu’alam..

oleh : abdul hajad
humas kammi djuanda 2013-2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s